Showing posts with label Angkasa. Show all posts
Showing posts with label Angkasa. Show all posts

Sunday, March 4, 2012

LAPAN: Asteroid AG5 Belum Tentu Tabrak Bumi

 
Asteroid (nasa.gov)


Astronom dunia, dari Badan Antariksa Eropa (ESO) dan  Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini sedang memusatkan perhatian pada pergerakan sebuah asteroid yang besarnya sedikit lebih panjang dari lapangan bola. Namanya, Asteroid 2011 AG5.

Batu raksasa itu diperkirakan bisa menabrak Bumi pada 5 Februari 2040, 28 tahun lagi. Peluangnya 1:625, yang terbesar yang pernah ada. Jika menghantam kota yang berpenduduk padat, niscaya petaka yang akan terjadi. Jutaan orang bisa tewas.

Terkait itu, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengakui, pihaknya belum melakukan penelitian khusus.

"Tim LAPAN hanya memantau kajian internasional. Karena belum ada teknologi yang canggih di Indonesia, sehingga kami hanya memantau saja," kata dia kepada VIVAnews.com, Sabtu 3 Maret 2012.

Apalagi, penemuan obyek tersebut masih dalam jangka waktu yang sangat panjang. "Artinya jika semakin jauh obyek luar angkasa dari tahun perkiraan, maka tingkat akurasi semakin buruk. Ini menjadi probabilistik, karena ada kemungkinan menabrak tapi belum tentu menabrak," kata dia.

Profesor riset Astronomi-Astrofisika itu menerangkan, ada suatu batas tertentu bahwa asteroid yang melintas bumi merupakan obyek yang diwaspadai. Namun meski melintas bumi, belum tentu lintasannya tersebut membahayakan bumi.

Penelitian di tahun 1990-an menjadi contoh kasus. Saat itu diperkirakan Komet Swift-Tuttle akan menabrak Bumi pada tahun 2126. "Namun dengan data terbaru dapat disimpulkan bahwa bumi dalam kondisi aman meski komet tersebut akan melintas bumi," kata dia.

Thomas meminta, masyarakat tak perlu khawatir berlebih. "Karena berita perkiraan tabrakan Asteroid belum bisa dipastikan 100 persen. Mungkin saja orbit asteroid dapat melenceng akibat gangguan planet-planet besar," kata dia.

Meski tak secanggih NASA atau ESO, LAPAN juga mengikuti perkembangan informasi obyek dekat Bumi yang berpotensi membahayakan.

Salah satu alasannya, Indonesia pernah kejatuhan asteroid. Asteroid besar pernah meledak di teluk Bone di Sulawesi pada tahun 2009. Saat itu, asteroid memasuki atmosfer padat bumi dengan perkiraan jarak 10 meter dari permukaan bumi dan menimbulkan ledakan. "Saat itu juga telah disiapkan alat pemantau nuklir yang mendeteksi asteroid hingga ketinggian 30 km sebelum asteroid bersinggungan ke bumi," tambah dia.

• VIVAnews

Friday, January 27, 2012

6 Badai Matahari Terburuk Dalam Sejarah

Badai matahari adalah sebuah gejala alam yang kerap terjadi di pusat tata suraya. Peristiwa tersebutsering ditemui di Galaksi Bimasakti. Badai ini bermula ketika matahari mengeluarkan sebuah gelombang elektromaknetik ke luar orbit yang menyerupai ledakan (solar flare). Ledakan-ledakan ini mampu untuk menembus atmosfer bumi.

Peristiwa badai matahari telah terjadi berkali-kali dalam sejarah. NASA mencatat setidaknya ada enam peristiwa terburuk badai matahari dalam sejarah. Berikut diantaranya yang dikutip SidomiNews dariSpace.


Peristiwa Carrington (1859)

Peristiwa Carrington terjadi pada tahun 1859. Peristiwa ini adalah peristiwa pertama yang mendokumentasikan badai matahari yang berdampak pada bumi. Peristiwa Carrington terjadi pada pukul 11:18 pada 1 September 1859. Nama Peristiwa Carrington didedikasikan untuk Richard Carrington, astronom matahari yang menyaksikan peristiwa tersebut melalui teleskop observatorium pribadinya.


Solar Flare (1972)

Suar surya besar terjadi pada 4 Agustus 1972. Akibat dari solar flare ini terputusnya komunikasi jarak jauh telepon di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS). Termasuk Illinois.


Kegagalan Pembangkit Listrik akibat Solar Flare (1989)

Pada bulan Maret 1989, suar surya kuat memicu pemadaman listrik di Kanada yang membuat enam juta orang hidup dikegelapan. Pemadaman ini terjadi pada 13 Maret 1989. Akibatnya, listrik sempat mati hingga sembilan jam. Menurut NASA, transmisi tenaga listrik dari stasiun Hydro Quebec terganggu dan menular hingga transformator daya di New Jersey. Solar flare ini berbeda skalanya dengan Peristiwa Carrington pada 1859.


Peristiwa Hari Bastille (2000)

Peristiwa Hari Bastille mengambil nama dari hari libur nasional Kemerdekaan Prancis pada tanggal 14 Juli 2000. Ini adalah letusan suar surya yang mengeluarkan skala X5 pada tiap jilatan api matahari. Peristiwa Hari Bastille menyebabkan beberapa satelit memutuskan sirkuit radio mereka dan menyebabkan radio padam. Peristiwa ini adalah suar surya yang paling kuat sejak tahun 1989.


Badai Matahari Halloween (2003)

Pada 28 Oktober 2003, matahari melepaskan sesuatu yang sangat besar akibat solar flare. Badai Matahari sangat intens dan begitu kuat sehingga sensor pesawat ruang angkasa kewalahan untuk mengukurnya. Badai matahari merupakan merupakan bagian dari serangkaian sembilan flare terbesar selama periode dua minggu.


X-Ray Sun Flare for Xmas (2006)

Ketika badai matahari pada 5 Desember 2006, tercatat radiasi kuat X9 pada skala cuaca ruang angkasa. Akibat badai matahari ini satelit komunikasi dan Global Position System (GPS) sempat terganggu selama sekitar 10 menit. Badai Matahari tersebut sangat begitu kuat dan merusak instrumen sinar-X pada satelit GOES 13 yang memotretnya.

Thursday, October 13, 2011

NASA Temukan Bukti Air Mengalir di Mars






Los Angeles - Para ilmuwan NASA mendapatkan bukti adanya aliran air di planet Mars. Temuan ini meningkatkan harapan kehidupan bisa muncul di Planet Merah itu.

Gambar terbaru dari satelit Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan gambar gelap, tampak seperti jari yang memanjang ke dataran yang menurun dan kawah-kawah di planet tersebut saat musim panas. Citra ini menghilang saat musim dingin melanda Mars.

"Ini adalah bukti terbaik saat ini bahwa ada air yang cair saat ini di Mars," kata pakar geofisika Arizona State University, Philip Christensen, dalam keterangan tim NASA di Washington, seperti diberitakan Reuters, Jumat (5/8/2011).

Para ilmuwan NASA percaya ada air yang cair di Mars, air itu akan sangat asin dan berada di bawah permukaan planet. Itu sebabnya air itu tidak membeku akibat suhu ekstrem di permukaan planet yang dinginnya mencapai -128 derajat Celcius.

"Air ini mungkin mengalir seperti sirup," kata Alfred McEwen, peneliti lain dari Universitas Arizona.

Mereka menekankan, air yang mengalir ini lebih penting keberadaannya ketimbang es. Air yang cair ini lebih mungkin membawa kehidupan dari pada es. Sebelumnya, NASA pernah menemukan ada bekas garis pantai dan tepian sungai di Mars. Ada juga kandungan mineral segar yang menandai pernah ada air.

Gambar terbaru soal air mengalir ini juga mengindikasikan hal serupa bisa banyak ditemukan di daerah katulistiwa atau equator dari Planet Mars. Air yang cair ini kemungkinan besar berada di bawah permukaan tanah karena Atmosfer Mars sangat tipis sehingga air mudah menguap di permukaan.

Pakar biogeokimia Universitas Indiana, Lisa Pratt, berteori, jika ada mahluk hidup di Bumi yang hidup di bawah tanah, hal serupa bisa saja terjadi di Mars. Tim ilmuwan mengakatan mereka akan meneliti lebih jauh di tujuh lokasi lain di Mars untuk mencari keberadaan air yang mengalir.

"Ini kesempatan pertama untuk melihat sebuah lingkungan di Mars yang mungkin menunjukan proses biologi aktif, kalau memang ada kehidupan masa kini di Mars," kata Pratt.

Fitraya Ramadhanny - detikNews

Saturday, September 24, 2011

Puing Satelit NASA Telah Hantam Bumi



NASA memastikan Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) telah memasuki atmosfer Bumi. Lokasi UARS diperkirakan di wilayah Kanada.

Menurut keterangan resmi NASA melalui akun resmi Twitter-nya, badan antariksa Amerika Serikat ini menyatakan, puing satelit kemungkinan besar jatuh di wilayah Kanada. “Jika puing jauh kemungkinan Kanda menjadi tempat jatuhnya puing, “ tulis @NASA.

Namun karena puing satelit ini masih merupakan milik Negara, siapa pun yang menemukan puing satelit ini harap mengembalikannya ke pemerintah AS, lanjutnya. “Puing UARS telah jatuh ke Bumi antara Jumat (23/9) pukul 23.23 waktu setempat hingga Sabtu (24/9) 01.09 waktu setempat,” tulisnya lagi.

Meski begitu, NASA menyatakan lokasi serta kapan tepatnya puing satelit jatuh belum bisa dipastikan. Indonesia sendiri terbebas risiko kejatuhan puing UARS karena sejak pagi, satelit tersebut tak melintasi wilayah udara Indonesia.

Lokasi akurat kejatuhan satelit ini sendiri baru bisa diketahui dua jam sebelum menghantam Bumi. “Posisi tumbukan baru bisa diketahui dua jam sebelum menumbuk Bumi,” ujar Peneliti Senior Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Prof. Dr. Thomas Djamaluddin.






Sumber: http://teknologi.inilah.com


Thursday, September 22, 2011

Bangkai Satelit Akan Jatuh di Indonesia

detail berita
Satelit UARS kemungkinan besar jatuh ke Indonesia (sumber : Google)

JAKARTA - NASA memperkirakan dua hari lagi atau lusa bangkai satelit UARS akan jatuh ke Bumi.

Kemungkinan besar akan menimpa sebagian besar wilayah Indonesia. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengakui jika satelit tersebut sudah melintasi Indonesia dengan jarak 190 KM diatas permukaan Indonesia.

Bangkai satelit dari Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) yang merupakan satelit buatan memiliki bobot 6 ton, namun bangkai tersebut dikatakan LAPAN tidak berbahaya jika jatuh ke Bumi karena tidak mengandung radio aktif.

Thomas Jamaluddi, Ketua LAPAN mengatakan UARS sudah melintasi Indonesia setiap hari dengan ketinggian hari ini mencapai 190 KM diatas permukaan Indonesia.

"Sekira dua hari lagi UARS akan mencapai ketinggian 120 KM yang dianggap sebagai batas ketinggian kritis, di mana bangkai satelit tersebut sudah mulai terbakar dan akan hancur menjadi beberapa bagian. Setelah itu dalam beberapa menit saja bisa langsung jatuh ke Bumi dan tersebar beberapa ratus KM di sepanjang lintasannya," jelas Thomas saat dihubungi okezone, Kamis (22/9/2011).

Thomas menegaskan jika LAPAN telah memantau kemungkinan besar batas kritis dari satelit tersebut ternyata melintasi Indonesia. Namun dia juga mengatakan jika hal tersebut tidak dapat dipastikan dan bergantung pada aktivitas matahari.

"Jika matahari sedang melakukan aktivitas yang aktif maka maka lapisan atmosfer akan lebih tebal dan akan menimbulkan gesekan yang lebih besar sehingga bangkai satelit bisa lebih cepat tiba di Bumi. Sementara jika aktivitas matahari tenang, maka lapisan lebih tipis dan gesekan semakin kecil, sehingga akan lebih lama sampai ke Bumi," ungkapnya.

Thomas juga menambahkan, pemantauan satelit secara internasional belum bisa menentukan wilayah mana saja yang akan menjadi tempat jatuhnya UARS secara pasti, kecuali beberapa jam sebelum bangkai satelit tersebut jatuh.

Menurutnya hal ini disebabkan karena adanya hambatan udara yang belum bisa ditentukan secara pasti dari jauh hari sebelumnya. (tyo)






okezone

Wednesday, September 14, 2011

Satelit Mati NASA Bakal Jatuh, Warga Diharap Waspada

Satelit Mati NASA Bakal Jatuh, Warga Diharap Waspada

NASA

NASA memberikan peringatan bahwa The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS), satelit yang sudah mati, akan jatuh ke Bumi dalam enam minggu ke depan ini. Kendati begitu, NASA belum bisa memprediksi tanggal yang tepat mengenai jatuhnya satelit ini.

UARS adalah satelit yang diluncurkan pada tanggal 15 September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan masuk Bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada pada dasarnya didesain untuk misi selama 3 tahun.

UARS mengandung senyawa kimia yang diperoleh dari lapisan ozon, angin, dan suhu di stratosfer, serta masukan energi dari Matahari.

Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan diameter mencapai 4,5 meter. Seperti dikutip dari TG Daily, meski satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke Bumi, tapi tidak semua bagian terbakar di atmosfer.

Risiko menyangkut keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan potongannya.

Data terbaru menunjukkan, UARS mengorbit 155 sampai 280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara 57 derajat khatulistiwa ke arah selatan atau 57 derajat ke arah utara.

Bila benda ini tidak terbakar di atmosfer, maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di Bumi.




(Sumber: TG Daily)